Latest Posts

Rabu, 12 Desember 2018

Menangkal Radikalisme Eks TKI

Tidak ada komentar:

Menangkal Radikalisme Eks TKI

M Aji Surya* - detikNews
Menangkal Radikalisme Eks TKIFoto: M Aji Surya
Seoul Anyonghaseo. Penangkapan calon "pengantin" bom bunuh diri di Bekasi baru-baru ini dan pengungkapan rencana aksi terduga teroris di Tangerang Selatan hari ini membuat banyak pihak terkesima. Rupanya ancaman teror juga ditebar oleh segelintir TKI yang pulang kampung. Bila dirunut lebih jauh, sepertinya banyak terkait dengan tingkat pendidikan dan soal kaget budaya.

Dalam catatan saya, sudah lebih dari 5 WNI, pekerja di negeri ginseng yang dideportasi akibat ulahnya, bermain-main dengan radikalisme. Pemerintah Korea Selatan tampaknya sangat ketat mengawasi siapa saja yang mengakses situs-situs terlarang tersebut, bahkan mengunggahnya di media sosial. Begitu terlibat "aktif", langsung "didepak".

Fenomena segelintir TKI yang menjadi radikal ini memang bukan barang baru. Mestinya mudah dan sudah diprediksi. Seorang pakar anti terorisme, Noor Huda Ismail, mengistilahkan sebab-musabab radikalisme itu dengan "gegar budaya" dan "digital illiteracy". Potensi menjadi radikal ini bisa sangat mungkin muncul di Korea, Jepang dan beberapa negara lain.
"Gegar budaya" dipicu oleh sebuah suasana baru yang memang sangat mengagetkan. Anak-anak lulusan SMP dan SMA yang di kampungnya rata-rata adalah warga yang sangat sederhana dengan kantong yang pas-pasan, tiba-tiba di Korea Selatan memiliki pendapatan kisaran Rp 30 juta per-bulan. Gaji pertama biasanya dipakai untuk unjuk gigi dengan pembelian hape dan gadget komunikasi lain yang paling top markotop di dunia.

Uang dan gadget adalah "mak comblang" dari perkenalan mereka dengan dunia maya yang tanpa batas. Di Korea yang notabene adalah negara dengan fasilitas Wi-Fi sangat kuat, mulai di WC hingga pantai, telah membuka lebar-lebar mata pikiran anak-anak kita akan hal-hal baru, termasuk paham radikal. Mereka terus mengalami "self learning" di malam-malam sepi, tanpa guru dan pembimbing.

Tingkat pendidikan para pendulang devisa yang pada level menengah merupakan persoalan tersendiri. Mereka mudah tertarik, simpati, mendukung dan bahkan terpengaruh akan hal-hal yang dianggap baru dan baik. Bahkan dalam batas tertentu, bila mereka yakin, tidak segan untuk menyisihkan sebagian dari pendapatannya dalam rangka "beramal soleh". Inilah fenomena digital illiteracy.

Tanpa adanya bimbingan yang ketat, mereka yang "fragile" itu akan mudah tergelincir dan mengeras hatinya. Dan salah-salah, akan pulang kampung siap menjadi martir dan "pengantin" bagi keyakinannya. Repotnya, di Korea saja jumlah TKI bisa mencapai hampir 40 ribu, belum ditambah di Jepang, Hongkong, dan beberapa negara lain --yang memberikan keindahan akses internet. So, tantangan mengawasi masalah ini sangat besar dan serius.

Menangkal Radikalisme Eks TKIFoto: M Aji Surya/detikcom

Hemat saya, kerentanan para TKI tersebut bisa ditanggulangi dengan setidaknya dua langkah utama. Pertama, pembekalan pra penempatan tentang kehati-hatian dalam penggunaan internet. Membangun kesadaran hal ini pastilah tidak mudah namun merupakan keharusan. Bahkan bila diperlukan, pendekatan "stick and carrot" juga bisa diberlakukan. 

Kedua, mengingat jumlah yang demikian banyak, perlu digalakkan pembinaan melalui berbagai grup medsos agar selalu ingat dan sadar akan bahaya radikalisme. Selain itu, pemberdayaan purna TKI oleh Pemerintah Pusat dan Daerah juga menjadi jurus mantap yang mempertebal rasa kebangsaan.

Jujur saja, sangatlah sulit melarang ratusan ribu pekerja kita di luar negeri untuk tidak berselancar di lautan dunia maya. Karenanya, selalu menyapa mereka dengan rasa cinta melalui peringatan dan pembinaan adalah sebuah jawaban. 

*M Aji Surya adalah WNI yang tinggal di Seoul, Korsel (try/try)
#muslimsejati
Continue Reading...

Selasa, 11 Desember 2018

Makna Islam Rahmatan Lil Alamin dan Aplikasinya didalam kehidupan bermasyarakat

Tidak ada komentar:

Makna Islam Rahmatan Lil Alamin dan Aplikasinya Dalam Kehidupan Bermasyarakat


Rahmatan lil alamin merupakan rasa kasih sayang, karunia, dan nikmat yang Allah SWT berikan kepada makhluknya dan seluruh alam semesta. Maka Allah menurunkan Islam sebagai rahmat melalui utusannya yakni Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa dan pembimbing jalan untuk dapat meraih rasa kasih sayang Allah di dunia maupun akhirat kelak.
Makna



Makna - wahidfounddation.org

Islam sebagai rahmatan lil alamin di sini menjelaskan bahwa agama Islam mengandung ajaran yang sempurna sebagai pedoman hidup manusia untuk dapat menggapai keselamatan, kedamaian, kemakmuran, kesejahteraan baik di dunia dan akhirat, itulah misi Nabi Muhammad SAW mengajarkan Islam kepada umat manusia. Namun, kemakmuran di sini buka semata ditujukan hanya untuk manusia, tetapi untuk seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini yakni manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, alam, serta makhluk ciptaan Allah lainnya.
Aplikasinya dalam Bermasyarakat



Aplikasi dalam bermasyarakat - aljazeera.com

Islam adalah sebuah agama yang lengkap dan paripurna. Ia mencakup segala aspek kehidupan. Sebagai agama, Islam menuntut untuk dipahami dan diaplikasikan secara kaaffah atau lengkap dalam kehidupan. Sehingga ia tidak hanya menjadi sebuah kepercayaan dan rasionalisas saja, melainkan juga harus mencakup aktualisasi ibadah dan penyembahan dalam lingkup Hablun minal laah (hubungan manusia dengan Allah) dan pengaplikasian tata cara bermasyarakat dengan segala aspeknya dalam lingkup hablun minan naas (hubungan antar sesama manusia).
Sebagai makhluk sosial, manusia dalam kesehariannya sudah tentu berhubungan dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Sebagai umat beragama, seorang muslim tentu harus mengaplikasi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin dalam kehidupan bermasyarakat. Aplikasi nilai Islam dalam perilaku kehidupan bermasyarakat secara teknis garis besar dapat dibagi menjadi 4 macam yakni:
  • Ukhuwah Islamiyah
    Dalam hal akidah Islam, kita adalah bersaudara dengan sesama umat muslim lainnya. Islam mengatur hal ini dalam tata cara bermasyarakat kepada sesama muslim. Contoh pelaksanaan dalam kehidupan sehari hari yang mencerminkan ukhuwah Islamiyah antara lain seperti menjaga hubungan baik dengan sesama muslim, mendamaikan jika berselisih, tidak saling merendahkan dan memaklumi kekurangan, serta berlomba menuju kebaikan dalam Islam.
  • Ukhuwah Basyariyah Insaniyah
    Sebagai rahmat bagi semesta alam, Islam mengajarkan tentang semangat persaudaraan antar sesama manusia. kita harus senantiasa berlaku baik pada setiap manusia, karena derajat kita sama di hadapan Allah, kecuali iman dan takwa yang membedakkannya. Contoh pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan ukhuwah basyariah insaniyah ini antara lain seperti saling bertegur sapa, melupakan perbedaan dan merajut kebersamaan, ikhlas menerima kritikan, dan tidak saling merasa diri paling benar.
  • Ukhuwah Wathoniyah
    Islam mengajarkan sikap cinta terhadap tanah air. Dalam konsep ukhuwah wathoniyah atau kenegaraan, kita ini sebagai bangsa adalah bersaudara dan setanah air, sehingga umat muslim harus senantiasa memiliki sifat nasionalis dan mematuhi konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku yang telah disepakati dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mulai dari undang-undang yang disusun oleh DPR sampai peraturan di kampung-kampung pun jika itu sudah menjadi kesepakatan bersama, maka kita harus mematuhinya, sehingga sikap dengan kesadaran hukum itulah dapat tercipta persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat.
  • Ukhuwah ‘ubudiyah
    Kehidupan bermasyarakat juga tidak bisa lepas dari interaksi dengan alam. Dalam ukhuwah ‘ubudiyah, Islam mengatur bagaimana hubungan manusia dengan lingkungan, hewan, dan tumbuhan. Manusia hendaknya harus bersikap baik dan menjaga alam, sebagaimana makna dari Islam sebagai rahmat seluruh alam. Contoh pelaksanaan dalam kehidupan sehari hari yang mencerminkan ukhuwah ‘ubudiyah ini bisa kita lakukan dari hal sederhana yakni menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian alam.
Demikianlah uraian singkat mengenai makna dan aplikasi nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin dalam kehidupan sehari-hari. Semoga tulisan ini dapat mendorong kita untuk lebih memahami dan merealisasikan semangat Islam yang sebenarnya dalam diri kita dan juga masyarakat. Jangan lupa share ya, berbagi ilmu biar makin banyak tahu.
Continue Reading...

Senin, 10 Desember 2018

Membendung gerakan radikalisme agama

Tidak ada komentar:

Membendung Gerakan Radikalisme Agama



Membendung Gerakan Radikalisme Agama

Akhir-akhir ini banyak tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Lebih memilukan lagi agama acapkali dijadikan justifikasi kenapa tindak kekerasan itu dilakukan. Peristiwa pengeboman di Hotel Sarinah beberapa tahun silam dan pembacokan seorang pendeta di Yogyakarta beberapa pekan yang lalu menjadi bukti kuat bahwa gerakan radikalisme agama di Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama mengingat Islam saat ini sering distigmakan sebagai sarang teroris dan 'penjahat agama'. Kesucian agama sudah mulai tercemar akibat tindakan yang mengatasnamakan jihad fi sabilillahtersebut. 

Sebenarnya jika diamati, tuduhan mengenai Islam sebagai agama teroris menemui momennya sejak peristiwa 11 November 2001 silam. Serangan yang disutradarai oleh Osama Ibn Laden tersebut dijadikan bukti kuat oleh barat bahwa Islam sangat berbahaya. Presiden Goerge W Bush langsung menuduh Obama sebagai repsentasi umat Islam. 

Dalam bentangan sejarah, agama merupakan senjata yang ampuh untuk membakar amarah dan emosi masyarakat. Apalagi masyarakat akar rumput (grass roat) yang pemahaman mereka terhadap ajarannya masih sangat minim. Ketika pemahaman yang dangkal tersebut 'disuntik' sedikit saja dengan ideologi jihad yang menggiurkan, emosi mereka langsung terbakar. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikalisme bermakna paham atau aliran yang radikal di politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan dan drastis; dan sikap ekstrem dan sikap ekstrem dalam politik. Term radikal belakangan sering singgungkan dengan agama. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa bahwa radikalisme agama adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan agama dengan drastis, ekstrem dan dengan kekerasan. 

Menggunakan cara ekstrem dan penuh kekerasan adalah hal yang berlawanan dengan tujuan luhur dari Islam itu sendiri. Sebagaimana jamak diketahui bersama, Islam datang adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Firman Allah Swt.:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan kami tidaklah mengutus engkau Muhammad melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al-Anbiya: 107)

Ibnu Jarir al-Thabari, salah seorang mufassir kenamaan memberikan catatan dalam mognum opus-nya, Tafsir al-Thabari, bahwa yang dimaksud rahmat atau kasih dalam ayat di atas mencakup pula kepada seluruh orang kafir. Jadi, rahmat dan kasih sayang Islam tidak hanya dirasakan oleh orang Islam saja. Lebih jauh dari itu, Islam datang diproyeksikan untuk melindungi orang-orang dari rasa lapar dan rasa takut (amanahum min ju’ wa amanahum min khauf). 

Dewasa ini, Indonesia dihantui gerakan jihad dari beberapa sekte radikal. Lebih memilukan, ideologi jihad kini mulai merambah ke kalangan kampus, terutama kampus negeri. Dengan pemahaman keagamaan yang dangkal para mahasiswa dengan mudah disusupi paham radikal tersebut. Oleh karena itu, jangan heran ketika menjumpai gerakan kemahasiwaan yang dengan lantang berteriak bahwa negara Indonesia adalah negara kafir. Atau suara lain yang mengatakan bahwa Pancasila perlu diganti dengan sistem khilafah dan lain sebagainya. Itu karena ideologi radikal sudah menyusupi aktivis dan aktivitas kemahasiswaan kampus. 

Dalam konteks ini, saya sependapat dengan almarhum KH Ahmad Hasyim Muzadi, sekjen ICIS (International Conference Of Islamic Scholars), yang menyatakan bahwa embrio utama lahirnya gerakan radikal ini adalah manhaj takfiri (pemahaman yang sarat pengkafiran), sehingga orang yang takfiri itu pekerjaanya adalah mengkafirkan umat Islam. Pernyataan mantan Ketua Umum PBNU ini cukup beralasan sebab, sejarah telah memberikan bukti bahwa paham takfiri kerap kali membuat gaduh dalam internal Islam itu sendiri. 

Salah satu gerakan atau aliran yang terkenal dengan model seperti ini adalah Khawarij. Kelompok ini pada dasarnya mengikuti dan setia terhadap Sayidina Ali. Namun, mereka akhirnya membelot, karena Ali Ibn Abi Thalib telah menerima arbitrase (tahkim) dari Sayidina Mua’wiyah Ibn Abi Sufyan di arena perang Siffin. Hingga pada akhirnya mereka beranggapan semua pihak yang terlibat dalam perang Siffin adalah kafir.

Akibat pemahaman ini, mereka merencanakan pembunuhan kepada Sayyidina Ali, Sayidina Mua’wiyah dan Sayidina Amr Ibn Ash. Dari ketiga sasaran tersebut hanya Sayidina Ali yang menjadi korban. Mua’wiyah Ibn Abi Sufyan dan Amar Ibn Ash selamat. Sayidina Aly wafat sebagai syahid ketika ia hendak menjadi imam salat Subuh di tangan Abdurrahman Ibn Muljam, dedengkot kaum Khawarij. 

Radikalisme Khawarij muncul disebabkan kekecewaan politik, baik kepada Mua’wiyah dan Aly Ibn Abi Thalib. Di samping itu, mereka merupakan masyarakat pedalaman (badu’i) yang berpendidikan rendah. Dengan mudah mereka dimobilisasi untuk melakukan kekerasan atas nama agama. Dari sinilah dapat diambil pemahaman bahwa fanatisme mazhab atau golongan dan dangkalnya pengetahuan agama menjadi salah satu penyebab utama gerakan radikal ini. 

Menurut hemat penulis, hal lain yang membuat paham radikalisme agama makin subur adalah kurangnya rasa toleransi. Toleransi yang dalam bahasa agama disebut al-Tasamuh mulai menjadi makhluk langka. Bahkan dalam internal Islam keberadaan toleransi perlu dipertanyakan kembali. Konflik berkempanjangan Sunni-Syiah adalah salah satu sampel bahwa nilai-nilai toleransi mulai mati suri. 

Ala kulli hal, fenomena radikalisme agama merupakan manifestasi peradaban Islam yang jatuh. Barangkali dapat disepakati bahwa tidak ada ajaran dan agama manapun yang membenarkan kekerasan. Kini Timur Tengah terus dibakar dengan api kemarahan dan permusuhan yang tak berkesudahan. Yang menjadi poin utama adalah bagaimana konflik dan kekerasan tersebut tidak diinpor oleh aktivis jihadis ke Indonesia. Sebab, jika sampai ke Indonesia maka akan lebih parah daripada fenomena di Timur Tengah itu. Hal ini karena Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat majemuk dan multi etnis, agama dan suku. Oleh karena itu gerakan melawan radikalisme dan terorisme perlu dijadikan sebagai gerakan nasional dan dilakukan dengan massif.
   
Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah Tanwirul Afkar Ma’had Aly dan pernah sebagai Editor Buletin GAMIS periode 2015-2017. Saat ini sedang belajar di lembaga kader ahli fikih & usul fikih Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Ia juga tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo.  
Continue Reading...

Minggu, 09 Desember 2018

Redam Radikalisme, BEM Unej gelar simposium

Tidak ada komentar:

Redam Radikalime, BEM Unej Gelar Simposium

Redam Radikalime, BEM Unej Gelar Simposium
Aryudi, NU Online | Ahad, 09 Desember 2018 10:30
Jember, NU Online 
Dalam rangka mempersempit area gerakan radikal, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jember, Jawa Timur  menggelar Simposium Kebangsaan 2018 di gedung Soetardjo, kampus Unej, Sabtu (8/12). Dalam simposium tersebut, hadir sebagai nara sumber antara lain, Kapolres Jember, Kusworo Wibowo, Dandim 0824 Jember,  Arif Munawar, agamawan,  Bhikkhu Gunajaya Putu Aryatama, Ketua Forum Pengawal danPembinaan Ideologi Pancasila,  Bambang Soepeno.
Menurut Presiden BEM Universitas Jember, Agus Wedi, simposium tersebut untuk merevitalisasi nilai-nilai luhur Pancasila  yang sudah mulai tergerus di hati sebagian generasi muda. Justru aksi kekerasan, radikalisme, dan intolerasi yang notabene bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, kian kencang  menyusup kalangan generasi muda.  Padahal, mereka adalah generasi yang diharapkan dapat meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Indonesia di masa mendatang. 
“Ini (simposium) adalah upaya untuk memberikan bekal dan pencerahan bagi generasi muda, mahasiswa khususnya, guna  menangulangi  penyebaran radikalisme, terorisme dan sikap intoleransi,” tukasnya kepada NU Online di sela-sela simposium.
Sementara itu, ketua panitia, Ima Husnul Khotimah menegaskan bahwa menanggulangi gerakan radikal dan sejenisnya bisa ditempuh dengan cara memupuk rasa nasionalisme dan meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat tentang nilai nilai kebangsaan.
“Generasi muda mempunyai peran penting dalam hal ini. Dan mereka seharusnya menjadi ujung tombak bangsa dalam menghayati nasionalisme sekaligus mencegah gerakan radikal,” ungkapnya (Red: Aryudi AR) 

#muslimsejati
Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/100052/redam-radikalime-bem-unej-gelar-simposium
Continue Reading...

Sabtu, 08 Desember 2018

Sekjen liga muslim dunia : islam melindungi hak-hak minoritas

Tidak ada komentar:

Sekjen Liga Muslim Dunia: Islam Melindungi Hak-hak Minoritas

Sekjen Liga Muslim Dunia: Islam Melindungi Hak-hak MinoritasMuchlishon, NU Online | Sabtu, 08 Desember 2018 22:00
Abu Dhabi, NU Online
Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa menegaskan, nilai-nilai Islam menjamin hak-hak hukum dan kebebasan semua orang. Menurut Al-Issa, Islam juga tidak menerima segala bentuk diskriminasi.

Demikian kata Al-Issa dalam pidatonya pada upacara pembukaan Forum untuk Mempromosikan Perdamaian (Forum for Promoting Peace) yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), sebagaimana dilansir laman Arab News, Sabtu (8/12). 

Al-Issa mengatakan bahwa kebencian, kekerasan, dan terorisme dilakukan oleh individu-individu, bukan agama mereka. Di hadapan ratusan peserta, dia meluruskan persepsi yang tidak tepat dan terlanjur berkembang di masyarakat tentang Islam. Baginya, Islam adalah agama yang menjaga hak asasi manusia dan kebebasan bersama, tidak terkecuali.

Tidak hanya itu, Al-Issa juga menjelaskan bahwa Islam sangat terbuka dengan keberadaan agama-agama lainnya. Tidak benar pemahaman atau persepsi yang menyebutkan bahwa Islam berusaha untuk ‘mengakhiri’ eksistensi agama yang lainnya.    

Al-Issa juga menegaskan bahwa menjaga hak-hak minoritas adalah bagian dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Acara ini merupakan acara konferensi tahunan. Ini adalah yang kelima kalinya. Konferensi ini bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, toleransi, dan moderasi secara global. Acara ini dihadiri sekitar 800 peserta dari berbagai agama, negara, dan organisasi kemanusiaan internasional di seluruh dunia. (Red: Muchlishon).

#muslimsejati
Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/100033/sekjen-liga-muslim-dunia-islam-melindungi-hak-hak-minoritas
Continue Reading...

Jumat, 07 Desember 2018

Hati-hati, Ini tiga karakter berpikir kelompok khawarij

Tidak ada komentar:
Hati-Hati, Ini Tiga  Karakter Berpikir Kelompok Khawarij

Hati-Hati, Ini Tiga Karakter Berpikir Kelompok Khawarij

Pasca perdamaian antara kubu Imam Ali  dan Sayyidina Muawiyah muncul kelompok yang menolak dari keputusan Imam Ali untuk menerima tahkim (arbitrase) dari pihak Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan. Pada awalnya kelompok ini berpihak pada Imam Ali, namun karena keputusan Imam Ali untuk menerima perdamaian melalui proses arbitrase dengan pihak Sayyidina Muawiyah, keputusan itu dipandang sebagai langkah mundur dari menegakkan agama dan keraguan dalam iman serta mengambil hukum bukan dari hukum yang telah ditetapkan Allah Ta’ala.
Kelompok itu kemudian dikenal dengan sebutan khawarij – yang bermakna orang-orang yang keluar dari kelompok Imam Ali. Khawarij beranggapan bahwa siapa saja yang mengikuti dan menerima proses tahkim , maka telah keluar dari ajaran dan syariat Islam dan halal darahnya untuk dibunuh. Terbunuhnya Imam Ali oleh tokoh khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam, ialah salah satu bentuk kebengisan dan kekejaman kelompok ini.
Khawarij inilah yang menjadi biang kerok perpecahan umat Islam di era awal kejayaan Islam. Pemikirannya yang ekstrim dengan mengkafirkan dan menghalalkan darah orang yang diluar golongannya adalah awal dari perpecahan umat Islam.
Walaupun sebagai golongan, kaum khawarij telah lama punah berkat kekhalifahan Dinasti Umayyah dengan menghentikkan gerakan ekstrim ini, namun karakteristik pemikiran khawarijisme masih ada sampai saat ini. Karakarteristik pemikiran khawarij masih dapat kita jumpai disekitar lingkungan kita. Berikut ini karakteristik kaum khawarij:
Pertama, cara berpikir yang formalistis. Maknanya ialah mereka sangat ketat berpegang pada peraturan dan tata cara yang berlaku dalam agama atau ajaran yang mereka anut. Pemahaman ini dapat dilihat dari pendapat mereka mengenai pelaku dosa besar, bahwasanya pelaku dosa besar – seperti orang yang berzina, meninggalkan sholat, lari dari peperangan, dan lain sebagainya, telah kafir atau keluar dari agama Islam dan halal darah dan hartanya, serta harus diusir dari kekuasaan wilayah umat Islam.
Khawarij juga berpendapat siapa saja yang mengikuti perang Jamal (perang antara kubu Imam Ali dan kubu Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah, Sayyidina Thalhah dan Zubair) dan menerima dan mengikuti keputusan hasil tahkim antara Imam Ali dan Muawiyah, mereka semua itu telah kafir dikarenakan mereka tidak berhukum atau berpegang teguh dengan syariat Islam.
Kedua, pemahaman tekstualitas terhadap ayat-ayat suci. Khawarij sangat patuh dengan ayat-ayat formal dari Al Qur’an, sehingga mereka tidak mau dan mampu menemukan makna yang tersirat dari tiap ayat yang terkandung di dalamnya. Jargon mereka ketika menfatwakan bahwasanya Imam Ali As. telah kafir yakni tidak ada hukum selain hukum Allah yang mereka ambil dari makna yang terdapat dalam surah Al Maidah ayat 44
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
Mereka tidak melihat sebab-sebab turunnya ayat dan makna yang tersirat dari ayat tersebut, padahal Mufasir di era Sahabat Nabi Saw. yakni Sayyidina Abdullah bin Abbas menafsirkan bahwa kafir disitu bukanlah kafir akidah, melainkan kekufuran dibawah kekufuran.
Ketiga, sempurna dalam ibadah, kurang dalam ukhuwah. Khawarij sangat bersemangat jika diserukan untuk melakukan ibadah ritual keagamaan – seperti sholat, puasa, membaca Al Qur’an, dan lain-lain. Namun, kurang bersemangat jika diajak untuk kegiatan sosial kemasyarakatan. Kekakuan dalam bersosialisasi di tengah masyarakat itu disebabkan karena mereka sulit menerima dan menghormati pemikiran kelompok lain.
Karakteristik kaum Khawarij yang telah dijelaskan di atas sebaiknya dijauhkan dari pemikiran dan perilaku diri dan keluarga kita. Sehingga, kita ikut andil dalam mengurangi sebab-sebab perpecahan umat Islam saat ini.
Wallaahu a’lam.
#muslimsejati
Continue Reading...

Rabu, 05 Desember 2018

Islam dan Humor

Tidak ada komentar:

Islam dan humor

Oleh: Abdur Rouf HanifSuatu hari Abu nawas menggegerkan penjuru pasar. Ia menantang tebak-tebakan warga. Jika berhasil menebak ia akan memberi imbalan dan bila gagal ia meminta imbalan.

Isi tebakanya yang tak lazim membuat semua orang gagal menebak. Ia memberi tebakan "Limadza ana aghna mina Allah?" (kenapa saya lebih kaya dari Allah?). Semua orang gagal memberikan alasan. Tak terkecuali Sang Raja Harun Ar-Rasyid. Karena penasaran sang raja mengaku nyerah dan minta jawabanya.

Abu Nawas pun dengan tersenyum puas menjawab: "Karena saya punya istri, anak dan punya hutang. Allah tidak punya semua itu". Sontak Harun Ar-Rasyid pun tertawa terpingkal-pingkal sambil berkata: "Majnun! (dasar wong edan)".

Dan masih banyak kisah-kisah lucu lainnya dari seorang sufi yang seumur hidupnya dihabiskan untuk menghibur manusia.
Di era Nabi juga ada sahabat yang selera humornya kelewat batas.

Dikisahkan seorang sahabat Nabi yang bernama Nuaiman. Ia adalah pribadi yang humoris tapi gemar mabuk-mabukan. Satu hal yang membuat para sahabat iri dengannya yakni kecintaannya pada baginda Nabi yang sangat luar biasa. Sehari tanpa bertemu nabi ia merasa pusing, sebagaimana sehari tanpa meneguk khamrWal-hasil Nabi selalu mengajaknya dalam berdakwah hingga sahabat-sahabat iri melihat kedekatan Nabi dengan Nuaiman.
Para sahabat pun bertanya kenapa Nabi begitu dekat dengan Nuaiman. Nabi menjawab bahwa Nuaiman lah yang selalu menghibur Nabi dengan humor-humor segarnya, meskipun ia sering di-takzir (dihukum) oleh Nabi karena terciduk sedang mabuk. Tetapi Nuaiman rela, asal selalu dekat dengan baginda Nabi.

Selepas Nabi meninggal Nuaiman semakin menjadi-jadi keusilannya. Suatu hari ada seorang yang buta mencari toilet. Oleh Nuaiman ia diantar ke tempat pengimaman masjid dan disuruh kencing di sana. Sontak para sahabat pun geram dan memarahi si buta tersebut.
Esok harinya si buta tersebut jengkel dan ingin mencari siapa gerangan yang menuntunnya untuk kencing di pengimaman masjid. Sialnya ia kembali bertemu dengan Nuaiman.
Nuaiman berkata pada pengemis buta bahwa ia tahu siapa yang menjerumuskannya kemarin. Kemudian dituntunlah si buta tersebut menuju masjid. Ia diarahkan kepada Sayyidina Utsman yang sedang berdzikir di dalam masjid. Kata Nuaiman, orang yang dzikir di masjid itulah yang menjahilimu kemarin. Sontak sahabat Utsman lari tunggang-langgang karena dipukuli si buta dengan tongkatnya.

Para sahabat yang tahu bahwa itu ulah Nuaiman, tak berani mencemooh apalagi mengafirkanya karena Nuaiman adalah sahabat Nabi yang gemar menghibur baginda Nabi.

Agama Islam bukanlah agama yang keras dan kaku. Nabi sendiri adalah pribadi yang humoris. Islam bukan hanya soal perang, kafir, musrik, murtad, bid'ah maupun kosa kata-kosa kata menghakimi lainnya. Oleh karenanya di era sosial media kini, mari bijak memilah dan memilih dai yang beredar di internet. Ceramah yang disertai humor cenderung menyejukkan ketimbang ceramah yang berisi ujaran kebencian.

Penulis adalah Pengurus GP Ansor Kecamatan Gisting, Tanggamus, Lampung

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/99922/islam-dan-humor
Continue Reading...

Selasa, 04 Desember 2018

Blak-blakan Mantan Aktivis HTI Cerita Teori Tebar Jala di Lautan Medsos oleh HTI

Tidak ada komentar:

Blak-blakan Mantan Aktivis HTI Cerita Teori Tebar Jala di Lautan Medsos oleh HTI



Mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Rofiq Al Amin mengatakan dalam kitab HTI disebutkan mereka yang tidak melaksanakan khilafah termasuk akbarul ma'asi atau kemaksiatan yang paling besar.


"Saya lima tahun aktif di HTI. Di antara upaya gerakan radikalisme itu tebar jala ide dan hoaks, daya tunggang dan kamuflase," kata Rofiq dalam Dialog Kebangsaan GP Ansor Bintan, Kepulauan Riau, Selasa (27/11).
Ia menjelaskan di era saat ini, generasi milenial hidup berakrab ria dengan medsos. Di 'lautan' medsos inilah generasi milenial banyak belajar dan diajari untuk hidup, tumbuh dan berkembang; baik cara tampilan diri, cara berfikir, cara bergaul, hingga sikap dan cara keberagamaannya.

"Lalu, siapa yang mengajarinya? Tidak lain semua pihak dari seluruh penjuru jagat raya yang berkepentingan. Seluruh pihak yang berkepentingan akan berupaya menebar 'jala' pemikiran di 'lautan' medsos untuk menjaring generasi milenial agar mengikuti idenya," papar Gus Rofiq, panggilan akrabnya.

Menurutnya semakin sering, massif, dan sistematis mereka menebar 'jala', maka akan semakin banyak 'ikan' tangkapan yang didapat, yakni generasi milenial yg  terperangkap 'jala' ide tersebut.

"Apesnya, di antara sekian  banyak penebar 'jala' di 'lautan' medsos adalah kelompok radikal; entah mereka yang mau menegakkan negara Islam (khilafah), atau mereka yang ingin melakukan purifikasi yang over alias kebacut," sesalnya.

Situasi demikian, bagi yang ingin menyelamatkan generasi milenial dari radikalisme tiada lain harus melakukan perlawanan, kontranarasi atau wacana balik. "Kita tidak boleh diam, 'jala-jala'  yang ditebar itu harus kita difungsikan dengan cara menyampaikan pencerahan akan bahaya radikalisme kepada generasi milenial agar mereka bisa menghindar dari jebakan  tebaran 'jala-jala' tersebut," imbuhnya.

Lebih berbahaya lagi, lanjut Gus Rofiq, jika 'jala' tersebut dimodifikasi menjadi 'pukat harimau'. Daya destruksinya terhadap generasi milenial semakin besar. Diibaratkan pukat harimau di dunia kelautan dilarang karena merusak alam bawah laut dan ikan-ikan kecil, 'pukat harimau' di 'lautan' medsos yang berkomposisi, hoaks, adu domba, isu SARA serta dihubungkan dengan kepentingan politik, akan merusak alam bawah sadar, pikiran, rasa, dan sikap generasi milenial.

Dosen UIN Sunan Ampel ini menegaskan NKRI adalah kesepakatan yang dibangun berdarah-darah. Ia bercerita, dulu ia memiliki tugas bergerilya dari tokoh ke tokoh, untuk mempengaruhi agar mereka mendukung khilafah. Kini dia justru jadi rujukan jawaban atas pertanyaan masyarakat umum yang acap kali dikampanyekan kalangan HTI untuk menggerus kemantapan warga negara Indonesia tetap berada di barisan Pancasila, lalu mengikuti propaganda mereka, yakni khilafah.

Sementara Rektor Inafis Jember,  Rijal Mumazziq menegaskan dalil untuk mencintai Indonesia itu cukup dengan ayat yang artinya 'Nikmat apa lagi yang engkau dustakan.'

"Karena Indonesia yang terdiri dari ribuan suku bisa hidup aman dan damai dan ini harus kita pertahankan," katanya.

Pada kegiatan bertema Meneguhkan kembali peran OKP dan Ormas dalam mengisi dan menjaga keutuhan NKRI yang berlangsung di Wisma Karya Kijang, Bintan, Provinsi Kepulauan Riau ini, Kapolres Bintan mengatakan GP Ansor sebagai mitra Polri sangat dibutuhkan sinergitasnya.

Selain Kapolres Bintan, hadir juga Kesbangpol Bintan, PWNU Kepri, PP GP Ansor, Ormas dan OKP se-Kabupaten Bintan. Ketua Panitia Muhammad Sahroni berharap kegiatan ini dapat menjadi bekal kita untuk menjaga dan merawat keberagaman. Kegiatan diakhiri dengan pelantikan PC GP Ansor Bintan. (Abdul Madjid Al Jufri/Kendi Setiawan/NU Online)

#muslimsejati
Sumber :http://www.muslimoderat.net/2018/12/mantan-aktivis-hti-cerita-teori-tebar.html#ixzz5YgaJjCUY
Continue Reading...

Senin, 03 Desember 2018

Islam jaya dengan ilmu

Tidak ada komentar:

Islam Jaya dengan Ilmu

Islam Jaya dengan Ilmu
Sekjend PP ISNU, Muhammad Khalid Syeiraz
Faizin, NU Online | Senin, 03 Desember 2018 17:30
Jakarta, NU OnlineDulu Islam pernah mencapai zaman keemasan pada abad ke-7 sampai 13 Masehi. Pada zaman itu lahir bintang-bintang cemerlang yakni para ilmuan yang berjasa melalui sumbangsih ilmu dan penemuan. 

Di antara ilmuan Islam tersebut seperti Jabir ibn Hayyan (721-815 M), Al-Fazari (w. 796/806 M), Al-Farghani (w. 870 M), Al-Kindi (801-873 M), Al-Khawarizmi (780-850 M), Al-Farabi (874-950 M), Al-Mas’udi (896-956 M), Ibn Miskawaih (932-1030 M), Ibn Sina (980-1037 M), Al-Razi (1149-1209 M), Al-Haitsami (w. 1039 M), Al-Ghazali (1058-1111 M), dan Ibn Rushd  (1126-1198 M).

Mereka memberikan sumbangan yang tiada tara bagi ilmu pengetahuan dan perdaban manusia.  Manfaatnya melampaui zaman, tanpa sekat agama dan bangsa. Dunia pun berterima kasih kepada Islam karena ilmu pengetahuan. 

"Itulah cara membela Islam yang benar," demikian ditegaskan Sekretaris Jendral Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Muhammad Khalid Syeirazi, Senin (3/12).

Mengutip maqolah Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah, tahqiq Sulaiman Dunya (Cairo: Dar al-Ma'arif, 1966), p. 80, Khalid mengungkapkan bahwa kecelakaan agama dari pembela yang tidak tahu caranya, lebih besar daripada kecelakaan agama dari pencela yang tahu caranya.

"Kini Islam hendak dibela dengan pekik takbir di jalan-jalan, mengibar-ngibarkan bendera, dengan rasa gusar dan marah. Gairah beragama tidak bergandeng tangan dengan kedalaman ilmu," lanjutnya.

Ia mengibaratkan tindakan seperti ini seperti buih air yang akan dengan mudahnya hilang dan tak memberikan manfaat.

"Jadilah buih, tidak menyisakan apa-apa selain gelembung. Apa yang akan kita wariskan ke anak cucu dari seonggok buih? Apa yang akan kita sumbangkan ke peradaban manusia dari pekik-pekik takbir, dari kerumunan massa? Kosong!," tegas Khalid melaluiFacebook-nya.

Khalid menegaskan Islam akan jaya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan kerumunan massa. 

"Itulah cara membela Islam yang benar," pungkasnya.(Red: Muhammad Faizin)
Continue Reading...

Minggu, 02 Desember 2018

Tahun politik, MUI nilai reuni 212 tidak penting

Tidak ada komentar:

Tahun Politik, MUI Nilai Reuni 212 Tidak Penting



Tahun Politik, MUI Nilai Reuni 212 Tidak Penting
Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidlowi menilai tak ada urgensinya (penting) rencana reuni 212 yang akan digelar awal bulan depan. Pada tahun politik, menurutnya masyarakat lebih baik diajak berpikir rasional dalam memilih pemimpin. 

Ia menambahkan, masyarakat harus diberikan penyadaran agar pemimpin nasional yang terpilih memiliki orientasi berdasarkan program-program yang jelas untuk menyejahterakan rakyat, pemimpin yang sudah teruji dan punya jejak rekam jelas kejujuran dan kesederhanaannya.

“Pemimpin yang kira-kira sesuai dengan tujuan ushul fiqhتصرف الامام علي الرعية منوط بالمصلحة
Artinya, Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada kemaslahatan," katanya, 

Karena itulah, menurut Pria kelahiran Bangkalan, 20 Juli 1958 ini, MUI tak mengenal istilah organisasi atau reuni 212. Tak ada kaitan di antara keduanya.  

“Jadi, umat sebaiknya jangan diajak ke arah provokasi politik yang tidak rasional, seakan-akan memperjuangkan agama padahal hakikatnya adalah kepentingan politik praktis jangka pendek,” tegasnya. 

Memasuki tahun politik, lanjutnya, setiap pihak akan dengan mudah memakai agama atau simbol-simbol agama untuk kepentingan politik praktis. Caranya, adalah dengan mengaku diri sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atau sebagai pemilik simbol-simbol agama tersebut.

Di saat yang sama, sambungnya, seraya mendiskreditkan pihak lawan politik sebagai musuh agama. Menurut dia, tindakan semacam itu sangat berbahaya.

Senada dengan Masduki, akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta A Bakir Ihsan, mengatakan, jika reuni ini dimaksudkan kepentingan politik, maka bisa mencederai agama Islam. Islam sejatinya bersifat universal dan rahmatan lil 'alamin.

"Agama bisa terciderai apabila digunakan untuk kepentingan kelompok atau organisasi tertentu, apalagi digunakan untuk menegasi sesama muslim hanya karena perbedaan pilihan politik," kata Bakir. (Abdullah Alawi)
Continue Reading...

Sabtu, 01 Desember 2018

Formasi tolak reuni 212 : kami khawatir ditunggangi HTI

Tidak ada komentar:

Formasi Tolak Reuni 212: Kami Khawatir Ditunggangi HTI 

Formasi Tolak Reuni 212: Kami Khawatir Ditunggangi HTI
Jakarta –
Forum Rembuk Masjid Indonesia (Formasi) menolak Reuni 212 yang akan digelar di Monas esok hari. Formasi menilai aksi Reuni 212 sudah keluar dari tujuan utamanya yang terkait dengan kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Penolakan itu disampaikan usai acara peringatan Maulid Nabi di Aula Masjid Al-Bina, Komplek Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (1/12/2018). Hadir dalam acara tersebut Farhat Abbas yang merupakan Caleg PKB.
Ketua Formasi, Gus Soleh mengatakan, Reuni 212 saat pertama kali digelar berkaitan dengan kasus penodaan agama Ahok. Menurutnya, karena Ahok sudah dinyatakan bersalah aksi tersebut sudah tak relevan lagi.
“Kepentingannya apa lagi gitu lho? Ya kita kumpul waktu itu Reuni 212 karena ada kesalahan pembicaraan dari Ahok. Dan negara kita menjadikan hukum sebagai panglima. Negara telah menetapkan dengan ketentuan hukum Ahok bersalah dan Ahok sudah ditahan,” kata Gus Soleh.
“Lah kenapa ada ini lagi? Apa lagi ini tahun politik. Jadi ini sudah keluar dari pada ruh dari pada aksi 212 itu sendiri,” imbuhnya.
Gus Soleh lalu menyinggung soal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Formasi khawatir aksi Reuni 212 justru disusupi kepentingan HTI.
“Yang kedua adalah, yang paling kami takutkan adalah tunggangan daripada HTI yang mana dia mengambil kepentingan di dalam kekeruhan aksi dari 212 ini untuk mengubah bangsa kita yang memang NKRI dan Pancasila sudah final,” jelas Gus Soleh.
Gus Soleh menuturkan, panitia aksi Reuni 212 memang berupaya mengajak kedua kubu yang bertarung di Pilpres 2019 ikut serta dalam acara tersebut. Namun, sambung dia, Formasi tetap menganggap aksi 212 sudah tidak tidak ada lagi.
“Itu mungkin salah satu cara agar bisa mengakomodir semuanya. Kalau kami ya secara pribadi maupun dengan komunitas kami, aksi 212 itu sudah tidak ada lagi lah, kan begitu,” ujarnya.
Aksi Reuni 212 akan digelar di Monas esok hari. Sejumlah ulama, dari Ustaz Arifin Ilham hingga Aa Gym, akan hadir.
“Untuk undangan tertulis, kami 250 tokoh ulama kami berikan tertulis, termasuk pimpinan DPR dan MPR. Kita tidak lihat parpol apa pun. Tokoh ulama kharismatik, seperti Arifin Ilham, Aa Gym, serta ulama lain, semua hadir Insyaallah,” tutur Ketum PA 212 Slamet Ma’arif, saat diskusi Polemik Sindo Trijaya bertema Seberapa Greget Reuni 212 di d’Consulate Resto, Wahid Hasyim, Sabtu (1/12).
#muslimsejati
Sumber :https://terkini.com/formasi-tolak-reuni-212-kami-khawatir-ditunggangi-hti/
Continue Reading...