Latest Posts

Jumat, 16 November 2018

Radikalisme bukan melulu terkait motif anti-barat

Tidak ada komentar:

Radikalisme Bukan Melulu Terkait Motif Anti-Barat

Pada 7 November 2018 yang lalu, Badan Litbang dan Diklat menyelenggarakan  International Symposium on Religious Life di Yogyakarta. Kepala Balitbang Diklat, H Abdurrahman Mas'ud dalam simposium yang bekerjasama dengan The Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) ini, menegaskan bahwa radikalisme bukan hanya terkait mtif anti-Barat. 

Kaban juga meyampaikan hasil beberapa studi mengenai sikap keagamaan masyarakat menggambarkan adanya jarak sosial antara kelompok-kelompok etnik dan umat antaragama, menguatnya penggunaan politik identitas, dan meningkatnya intoleransi dan konservatisme.

Potensi radikalisme di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan temuan penelitian Badan Litbang dan Diklat berkategori mengkhawatirkan, di mana terdapat kecenderungan radikalisme meningkat dari waktu ke waktu. Hal itu terjadi di semua agama. Namun, perkembangan radikalisme di Indonesia menunjukkan ada perbedaan pola dengan kesimpulan dan teori-teori besar arus utama radikalisme yang ada.

Menurut Mas’ud, sementara studi-studi konvensional menunjukkan potensi radikalisme acap kali dimotivasi dan didasarkan pada konteks sosio-politik gerakan anti-Barat, penelitian Badan Litbang dan Diklat menggunakan gabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif menunjukkan temuan berbeda.

Pertama, potensi radikalisme muncul di kalangan siswa karena faktor internalisasi pemahaman agama yang cenderung ideologis dan tertutup serta tidak melulu  terkait dengan gerakan radikalisme yang secara politis didasarkan pada motif anti-Barat. Kedua, potensi radikalisme yang didasarkan pada pemahaman ideologis yang cenderung kaku dan hitam putih terjadi di semua agama, baik di kalangan Muslim, Katolik, Kristen, Hindu maupun Budha.

Untuk itu, Mas’ud merekomendasikan beberapa hal. Pertama, perlu merumuskan konsep dan perspektif teoritis tentang Islam moderat yang bisa dipahami dan memperkuat masyarakat. Kedua, perlu menyebarkan seluruh sumber daya arus utama Islam moderat. Ketiga, menginternalisasikan dan menebarkan pendidikan Islam yang santun, toleran, dan rahmatan lil’alamin. Keempat, pembentukan karakter siswa bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat. (Kendi Setiawan)

Source NU online

#muslimsejati
Continue Reading...

Kamis, 15 November 2018

Sekjen PBNU: Dakwah Menebar Kebencian Bukan Ajaran Nabi Muhammad

Tidak ada komentar:
Sekjen PBNU: Dakwah Menebar Kebencian Bukan Ajaran Nabi Muhammad


Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faisal Zaini menyinggung orang-orang yang berdakwah tetapi diselipi ujaran kebencian. Menurutnya, pendakwah demikian jauh dari ajaran Nabi Muhammad.

"Jadi kalau sekarang bertebaran ada orang-orang yang mengatasnamakan syiar Islam, tapi dalam dakwahnya hobinya hanya menebar kebencian menebar teror menebar permusuhan hampir kita pastikan ini jauh dari tuntunan nabi besar Muhammad," katanya di kediaman cawapres Ma'ruf Amin, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/11).

Dia menjelaskan, Nabi Muhammad mengajarkan Islam sebagai agama yang ramah, tidak marah. "Islam adalah agama yang merangkul bukan memukul. Islam adalah agama yang mengajak bukan mengejek," jelasnya.

Helmy menambahkan, dakwah Islam di Indonesia adalah yang ramah. Hal itu menjadi bukti kebesaran bangsa sebagai negara muslim terbesar.

Dia menjelaskan, dari keseluruhan umat Islam di Indonesia, ada 10 persen yang tidak melakukan Maulid Nabi. Dia berharap jika Ma'ruf Amin menjadi wakil presiden, 10 persen ini bakal mengikuti Maulid Nabi.

"InsyaAllah nanti Kiai Ma'ruf Amin jadi wakil presiden yang 10 persen ini menjadi 100 persen umat Islam ini cinta terhadap Nabi Muhammad," tutupnya. [fik]


Sumber : http://www.muslimoderat.net/2018/11/sekjen-pbnu-dakwah-menebar-kebencian.html#ixzz5Ww4xztce
Continue Reading...

Rabu, 14 November 2018

Abdurrahman Mas’ud: Islam Wasathiyah Mampu Bendung Gerakan Keagamaan Menyimpang

Tidak ada komentar:

Abdurrahman Mas’ud: Islam Wasathiyah Mampu Bendung Gerakan Keagamaan Menyimpang

Abdurrahman Mas’ud: Islam Wasathiyah Mampu Bendung Gerakan Keagamaan Menyimpang
Senior Official Meeting (SOM) Menteri-menteri Agama, Selasa (13/11)
Kendi, NU Online | Rabu, 14 November 2018 15:30
Bandar Seri Begawan, NU Online
Di tengah gencarnya wacana keagamaan yang beragam di Indonesia, kita tetap optimis akan peran sentral Islam Wasathiyah. Pasalnya, kelompok utama di Indonesia ini akan mampu membendung berbagai gerakan yang berseberangan atau menyimpang dari kultur dan tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Balitbang Diklat Kemenag RI, H Abdurrahman Mas'ud, dalam Pertemuan Tahunan Tidak Resmi Senior Official Meeting (SOM) Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) di Brunei Darussalam, Selasa (13/11). 

“Segencar apa pun wacana keagamaan yang dipandang menyimpang, Indonesia akan tetap kokoh dengan semangat moderasi Islam. Sebab, kapal tidak akan karam karena ombak yang tinggi. Melainkan karena ada air yang masuk ke dalamnya,” ujar Mas’ud berfilosofi.

“Apalagi dalam konteks hubungan antaragama, di mana Indonesia memiliki anutan yang beragam, telah ada tali-ikat yang kuat dalam bentuk Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 sebagai kesepakan yang final,” tambahnya.

Guru Besar UIN Walisongo ini mencontohkan dinamika wacana Islam Liberal (Islib) di Indonesia. Islib memiliki unsur maslahat dan mudaratnya sekaligus. Manfaatnya, gagasan ini mendorong umat Islam untuk melakukan kontekstualisasi dan fungsionalisasi nilai-nilai ajaran Islam sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman.

“Untuk konteks Indonesia, pengusung gagasan Islam Liberal sangat akrab dengan sumber-sumber keagamaan klasik dalam bentuk kitab kuning. Bahkan, sang pengusung, Ulil Abshar Abdalla, belakangan ini mendirikan pesantren online yang mengkaji naskah-naskah klasik karya ulama abad pertengahan, seperti Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali, Bidayatul Mujtahid karya Ibn Rushd, dan lain-lain,” ujar Mas’ud.

Sementara mudaratnya, lanjut dia, gerakan Islam Liberal merupakan pemikiran yang acap kali berseberangan dengan paham keagamaan mainstream di Indonesia. Hal ini bahkan sampai pada pengembangan wacana keagamaan terkait dengan masalah sosial moderen seperti LGBT, liberalisme agama, dan sebagainya.

Kasus Islam Liberal untuk konteks Indonesia, kata Mas'ud, agak berbeda, karena lebih bernuansa gerakan pemikiran, bukan aksi dan praktik sosial. Bahwa ada pemikiran tentang perkawinan sejenis, perkawinan antar-agama, dan lain-lain di kalangan jaringan ini, hal itu lebih merupakan respons atas fenomena yang muncul di masyarakat. "Sayangnya, respons kelompok ini dipandang sebagai sikap akomodatif terhadap praktik sosial yang menyimpang tersebut,” paparnya.

Doktor jebolan UCLA Amerika Serikat ini menambahkan, selain gerakan Islam Liberal, juga muncul kelompok lain yang berseberangan dalam bentuk pemikiran tekstual dan skriptural. Kelompok tersebut sangat semangat menjalankan ajaran Islam secara murni dan konsekuen sesuai dengan Quran dan Hadits.

“Kelompok ini mengusung gagasan khilafah, Islam politik, dan semangat keagamaan yang mengabaikan pluralitas anutan keagamaan. Mereka menolak perbedaan tradisi dan khazanah lokal. Berbagai hal yang dipandangnya bertentangan dengan ajaran Islam juga ditolak,” tandas Mas’ud.

Menurut pria asal Kudus ini, mencermati kedua wacana yang saling berhadapan tersebut, negara kemudian mengusung pemikiran jalan tengah dalam bentuk Islam Wasathiyah, Islam Moderat, dan Moderasi Agama. “Semangat ini didasarkan atas pemahaman keagamaan mainstream di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama yang mengusung spirit Islam Nusantara dan Muhammadiyah dengan semangat Islam Berkemajuan,” tuturnya.

Pada sesi awal, Kepala Balitbang Diklat Kemenag Abdurrahman Mas'ud sebagai perwakilan Indonesia mempresentasikan makalah dalam bentuk panel bersama perwakilan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Hadir juga pada pertemuan tersebut, Sekjen Kemenag Nurcholis Setiawan, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, dan sejumlah pejabat eselon II.

Dalam agenda tahunan tidak resmi Menteri-Menteri Agama empat negara yang berlangsung di Ibu Kota Brunei Darussalam selama sepekan, 12-16 Nopember 2018 ini, Kepala Balitbang Diklat didampingi dua kepala bidang (kabid) dari Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, yakni Kabid Litbang Pendidikan Keagamaan, Muhammad Murtadlo; dan Kabid Litbang Pendidikan Agama dan Pendidikan Tinggi Keagamaan, Huriyudin. (Musthofa Asrori/Kendi Setiawan)

#muslimsejati
http://www.nu.or.id/post/read/98927/abdurrahman-masud-islam-wasathiyah-mampu-bendung-gerakan-keagamaan-menyimpang
Continue Reading...

Sabtu, 10 November 2018

HARI PAHLAWAN, MOMENTUM BERSYUKUR ATAS NIKMAT KEMERDEKAAN

Tidak ada komentar:

HARI PAHLAWAN, MOMENTUM BERSYUKUR ATAS NIKMAT KEMERDEKAAN

Pringsewu, NU Online10 November 1945 menjadi momentum bersejarah dan berharga bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan yang saat ini bisa dirasakan nikmatnya oleh para generasi penerus bangsa. Sudah menjadi keharusan bagi generasi yang tidak ikut berjuang mengangkat senjata merebut kemerdekaan dengan darah dan nyawa, untuk bersyukur kepada Allah SWT dengan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini.

Penegasan ini dikatakan Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung KH Sujadi dalam suasana memperingati Hari Pahlawan, Sabtu (10/11). Bupati Pringsewu ini juga mengingatkan pentingnya mendoakan para pahlawan dan syuhada agar diterima amal perjuangannya dan ditempatkan oleh Allah SWT di sisiNya yang mulia.

"Semoga Allah SWT memberi kekuatan lahir dan bathin kepada kita untuk meneruskan perjuangan para pahlawan dan syuhada dengan membangun Pringsewu menuju daerah yang Baldatun Thoyyobatun wa Rabbun Ghafur dengan ridho Allah SWT. Semoga kita mendapatkan rahmat dan berkah. Selamat Hari Pahlawan," ungkapnya kepada NU Online.

Di tempat terpisah, Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Kabupaten Pringsewu Ahmad Rifai mengungkapkan bahwa hari pahlawan harus menjadi momentum untuk menanamkan nasionalisme sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan khususnya kepada para generasi muda.

"Generasi muda, para pelajar harus terus dididik untuk menghargai jasa para leluhur bangsa dan para syuhada. Mereka juga harus diberi pemahaman tentang keberagaman untuk meningkatkan rasa solidaritas kepada sesama," anjurnya.

Para generasi muda juga harus terus didorong untuk aktif mengisi kemerdekaan melalui aktif dalam segala kegiatan yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

"Jika setiap elemen bangsa khususnya pemuda mampu mengisi dengan aktif kemerdekaan, maka insya Allah akan tercipta masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera," ungkap pria yang juga Kepala MTs Ma'arif NU Pajaresuk ini.

Apalagi generasi saat ini yang sering disebut generasi milenial, merupakan segmen mayoritas yang mencapai 40 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Jumlah persentase ini akan melonjak pada 2025 sebanyak 60 persen di mana Indonesia akan mendapatkan masa bonus demografi. Dan ini tentunya para generasi muda saat nanti akan menjadi salah satu penentu utama keberlangsungan bangsa ini.

"Mereka harus mewarisi spirit perjuangan para pejuang bangsa yang berasal dari berbagai kelompok agama dan suku. Di tengah perbedaan, mereka bisa bersatu merebut kemerdekaan. Saatnya sekarang di tengah kebhinekaan dan kemajuan ilmu serta teknologi generasi muda harus lebih semangat mempertahankan NKRI dengan mengisi kemerdekaan ini," pungkasnya. (Muhammad Faizin)

Link: http://www.nu.or.id/post/read/98720/hari-pahlawan-momentum-bersyukur-atas-nikmat-kemerdekaan
Continue Reading...

Kamis, 08 November 2018

Gus mus : hindari politisasi agama

Tidak ada komentar:

Gus Mus: Hindari Politisasi Agama

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) meminta politikus tidak menyeret agama untuk kepentingan politik praktis dan merebut kekuasaan saja. Karena hal itu dapat merugikan agama Islam sendiri, apalagi digambarkan pembuat kerusuhan dan haus kekuasaan.

Sekarang banyak politikus yang menarik-narik agama ke politik. Allah dibawa-bawa ke ranah kampanye. Suriah dulu rusak karena agama digunakan untuk kepentingan politik.

Hal itu disampikan Gus Mus pada acara Haul ke-3 KH Aziz Manshur di Pesantren Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (6/11) kemarin.

"Dalil tidak digunakan pada tempatnya. Bisa-bisanya surat Al Maidah ditarik ke politik, perkara lima tahun sekali kok dibelain sampai kayak mau kiamat, padahal lima tahun lagi akan ada pemilihan baru," katanya.

Gus Mus juga menyoroti banyaknya politikus yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk menjatuhkan lawan politik. Ayat suci tersebut digunakan untuk membenarkan tindakannya. Terkesan memaksakan dalil. Bahkan karena saking fanatiknya pada pilihan politik sampai-sampai merusak persaudaraan. Kakak dan adik tidak lagi akur. Sama tetangga tidak berteguran karena beda pilihan.

"Jadi saya tidak terlalu percaya kalau politikus suka dalil-dalil, kepentingan sesaat. Bahayanya kalau seandainya dalil lima tahun lalu berbeda dengan tahun sekarang. Karena keadaan politik, padahal jejak digital itu kejam. Malah kelihatan tidak konsisten, dulu mengharamkan tapi sekarang membolehkan," ujar Gus Mus.

Gus Mus pun mengaku heran dengan kelompok Islam gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Kelompok ini merasa paling benar dan teriak ke sana ke mari merasa paling gagah. Mereka berdemo-demo seolah paling benar. Ia berpendapat gerakan ini subur juga karena sekarang orang waras banyak yang mengalah. Ini harus dibalik sekarang, orang waras harus bicara.

"Kok ya ada gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Al-Hadits tapi Al-Qur'an yang dimaksud adalah Qur'an terjemahan Departemen Agama (Depag). Padahal bahasa Indonesia itu tidak bisa sempurna memaknai bahasa Al-Qur'an. Karena keterbatasan kosa kata. Bersyukurlah santri yang masih belajar di pesantren," beber Gus Mus.

Oleh karenanya, Gus Mus usul untuk melawan gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits dengan ngaji kepada para ahli di pesantren. Ditambah lagi dengan memperbanyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kalau tidak begitu, orang tidak paham agama secara mendalam akan berfatwa terus.

"Maulid nabi dan Haul kalau bisa setiap malam, biar tidak lali (lupa-red) sama kebaikan nabi dan kiai. Biar tidak ada lagi istilah nabi dawuh ngulon (barat), orangnya malah ngetan (timur). Sudah salah, ditambahi takbir lagi. Kembali ke Al-Qur'an itu ya ngaji, kembali ke pesantren," tandas Gus Mus. (Syarif Abdurrahman/Muiz)



http://www.nu.or.id
Continue Reading...

Mengapa Bendera Hitam Bertuliskan Kalimat Tauhid di Saudi "Dianggap Musuh" Pemerintah?

Tidak ada komentar:

Mengapa Bendera Hitam Bertuliskan Kalimat Tauhid di Saudi "Dianggap Musuh" Pemerintah?


PEMIMPIN FPI Rizieq Shihab diperiksa dan sempat ditahan oleh aparat keamanan Arab Saudi karena diduga memasang bendera yang "mirip dengan bendera ISIS".
Menurut keterangan tertulis Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, Rizieq ditangkap di Mekah pada Senin (5/11/2018) "karena diketahui adanya pemasangan bendera hitam yang mengarah pada ciri-ciri gerakan ekstremis" pada dinding belakang rumahnya.
Agus mengatakan bahwa pemerintah Arab Saudi "sangat melarang keras segala bentuk jargon, label, atribut dan lambang apa pun yang berbau terorisme seperti ISIS, Al-Qaeda, Al-Jama'ah al-Islamiyyah dan segala kegiatan yang berbau terorisme dan ekstrimisme."
Sebelumnya, tersebar foto yang menunjukkan selembar bendera berlatar hitam dengan lafaz tauhid dalam bahasa Arab Laa ilaaha illallah, Muhammadurrasuulallah (tiada Tuhan selain Allah, Muhammad rasul Allah) berwarna putih, ditempel di dinding sebuah rumah — diduga merupakan tempat tinggal Rizieq di Mekah.
Pemeriksaan terhadap Rizieq dilakukan tidak lama setelah terjadi beredar video pembakaran bendera dengan kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat (22/10).
Dalam video itu, beberapa anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) membakar bendera hitam bertulisan kalimat tauhid. Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan kepada media bahwa bendera yang dibakar merupakan "bendera HTI".
Pembakaran ini memicu aksi protes.
Persaudaraan Alumni 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama menginisiasi unjuk rasa yang dihadiri ribuan orang. Unjuk rasa tersebut telah digelar dua kali, yakni pada tanggal 26 Oktober dan 2 November lalu.
Simbol Ideologi
Rumadi Ahmad, pengamat politik Islam dari UIN Syarif Hidayatullah, mengatakan bahwa penangkapan Rizieq oleh aparat keamanan Arab Saudi menegaskan bahwa protes 'bela tauhid' itu keliru.
Penangkapan itu, menurut Rumadi, berarti bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid itu tak sekadar bermakna kalimat tauhid tapi merupakan simbol yang mewakili ideologi tertentu.
"Bahkan bendera Saudi sendiri kan tulisannya sama, warnanya saja yang beda. Tapi kenapa Saudi mempersoalkan bendera model HTI seperti itu?
"Karena Saudi tahu bahwa di balik bendera itu, meskipun tulisannya sama-sama laa ilaaha illallah, tetapi di balik simbol itu ada ideologi yang berbeda dan bahkan menjadi musuh pemerintah Saudi," tutur Rumadi.
Kalimat "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah" memang dipakai dalam beberapa bendera. Selain Arab Saudi, Afghanistan pun memasukkan kalimat ini dalam benderanya.
ISIS juga memakai bendera hitam dengan tulisan "laa ilaaha illallah", dengan bentuk tulisan yang berbeda dengan bendera Hizbut Tahrir maupun bendera Arab Saudi.
Sebelumnya
1 / 2
Ar-roya dan Al-liwa
Juru bicara Persaudaraan Alumni 212, Novel Bamukmin, bersikeras bahwa bendera bertulisan kalimat tauhid yang dibakar di Garut bukan bendera HTI melainkan bendera panji Rasulullah Muhammad SAW yang disebut Ar-roya.
"Di Indonesia ini HTI tidak pernah mendaftarkan bendera itu sebagai bendera resmi ... Bendera yang selama ini berkibar itu polos, bendera Ar-Roya. Ar-Roya itu kain hitam empat persegi panjang, bertuliskan kalimat tauhid putih," ujarnya kepada BBC News Indonesia, Rabu (07/11).
"Dan itu enggak boleh diklaim sebagai bendera ormas manapun, enggak boleh diklaim sebagai partai manapun, karena itu adalah bendera panjinya Rasulullah, partainya Rasulullah," ia menambahkan.
Selain Ar-roya ada juga bendera yang disebut Al-liwa.
Perbedaan keduanya hanya pada warna. Ar-roya berwarna hitam dengan tulisan putih, sedangkan Al-liwa berwarna putih dengan tulisan hitam. Kedua bendera itu dikenalkan oleh Hizbut Tahrir pada tahun 2005.
Namun menurut Rumadi, bendera Nabi Muhammad SAW tidak hanya dua warna itu.
"Hadis yang meriwayatkannya itu macam-macam... ada yang meriwayatkan putih, tulisan hitam, ada yang meriwayatkan hitam, tulisan putih. Tapi juga ada riwayat lain, bendera itu warnanya safra atau kuning."
Ia menambahkan bahwa dalam sejarah Islam, simbol bendera itu juga berubah dari waktu ke waktu. Selain itu, Ar-roya dan Al-liwa sejarahnya digunakan dalam masa-masa perang.
"Jadi argumentasi itu, menurut saya, argumentasi yang sengaja diciptakan, sengaja dibuat untuk membawa arus masyarakat bahwa apa yang mereka perjuangkan itu seolah-olah perjuangan Islam itu sendiri padahal bukan," ujarnya.
Rumadi menegaskan pendapatnya bahwa bendera yang diduga dipasang di rumah Rizieq bukanlah bendera Nabi Muhammad, melainkan bendera HTI yang mengapropriasi simbol yang pernah digunakan oleh sang nabi.
Namun demikian, ia menyayangkan pembakaran bendera tersebut di Garut.
Continue Reading...

Selasa, 06 November 2018

Pancasila ideologiku

Tidak ada komentar:

Indonesia merupakan negara dengan beraneka ragam bahasa, budaya dan agama. Semua hidup dalam satu kesatuan yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indonesia dengan falsafah bangsa yang dimiliki yaitu pancasila mampu memberikan semangat dan arahan yang positif untuk melawan kebodohan dan kemiskinan yang ada dalam bangsa ini. Dengan pancasila sebagai falsafah serta ideologi bangsa indonesia tercinta ini, itu artinya setiap warga negara republik indonesia terikat dengan nilai-nilai kebersamaan atau kekeluargaan dan menolak segala organisasi yang bersifat individualis yang bisa melahirkan berbagai organisasi seperti liberalisme, kapitalisme, kolonialisme, imperialisme, otoriterianisme dengan hanya mementingkan kelompoknya dan berniat sebagai penghancur untuk kelompok lain. Ideologi yang ada dalam negara indonesia merupakan sebuah perkembangan dari ideologi bangsa, pancasila bukan hanya sebuah ide atau fikiran yang tertuang sementara tetapi pancasila merupakan sebuah nilai yang diangkat dengan derajat tinggi dari banyaknya unsur yaitu adat istiadat atau kebudayaan serta nilai-nilai religius yang tertanam dalam setiap diri manusia.
Dalam pembukaan UUD 1945, pancasila merupakan dasar negara, hal ini menjadikan pancasila sebagai satu bagian yang menyeluruh dengan berbagai sifat yang memuat norma-norma terhadap terselenggaranya negera indonesia dengan baik. Sesuai yang dijelaskan diatas dalam sebuah kutipan menyatakan bahwa pancasila merupakan falsafah negara atau ideologi negara , karena memuat norma-norma yang paling mendasar untuk mengukur dan menentukan keabsahan bentuk-bentuk penyelenggaraan negara serta kebijaksanaan-kebijaksanaan penting yang diambil dalam proses pemerintahan. (Soerdjanto Poespowardojo :1991)
Dengan ideologi yang dimiliki oleh bangsa indonesia bukan berarti sebagai bangsa indonesia terbebas dari berbagai masalah. Indonesia dengan masalah terbesarnya yaitu masalah identitas nasional atau karakter bangsa. Dalam permasalah tersebut muncul berbagai cabang permasalahan, seperti : 1)Disorientasi dan belum dikhayatinya nila-nilai pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa indonesia.2)Bergesernya nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 3)Menurun serta memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, dan ancaman disentegrasi bangsa. 
Berbagai hal-hal tersebut merupakan suatu cabang-cabang permasalahan yang muncul seiring dengan canggihnya transformatika, sehingga menjadi sebuah penghalang bangsa indoneia untuk maju.beberapa hal yang menjadikan sebuah mentalitas negatif bangsa indonesia yaitu dengan hal-hal yang dianggap itu sebuah masalah kecil. Seperti : 1) meremehkan mutu, bisa diatur, jam karet, satu meja satu amplop, urursan diselesaikan dengan damai, 2) tidak adanya sikap percaya diri dan optimistis terhadap segala hal yang ada didepan mata, 3) kurang disiplin, mengabaikan tanggung jawab. (Koentjaraningrat:1974)
Adanya masalah-masalah tersebut itu merupakan sebuah bukti bahwa masyarakat indonesia dengan falsafah dan ideologi pancasila tetapi belum mampu menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh menuju pancasila yang nyata. Penulis disini menjadikan sebuah hal yang sangat fenomenal di Indonesia sendiri sebagai contoh banyaknya pejabat dengan pendidikan yang sangat tinggi tetapi beberapa banyak dari mereka yang tidak begitu sadar tentang makna pancasila dalam kehidupannya. Masih adanya korupsi, individualitas yang tinggi, dan tidak adanya rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diemban. 
Sebuah hal yang juga dianggap tidak asing dalam pandangan setiap manusia yaitu banyaknya manusia yang hidup dinegeri ini tetapi mereka hanya sekedar hidup tanpa mengerti pancasila sebagai ideologi dengan berjuta makna. Banyaknya organisasi sosial dan politik yang ada di Indonesia tidak berlandaskan pada pancasila dengan tujuan untuk menggantikan pancasila dengan sistem pemerintahan yang menurut organisasi tersebut paling benar dan sesuai, seperti organisasi Hizbut Tahrir yang sudah semakin berkembang di Indonesia .
Dari sekian masalah dinegeri ini, pancasila adalah sebuah lambang kemenangan yang tidak terkalahkan dengan tetap berjiwa nasionalisme tinggi, mempersatukan banyaknya organisasi dan tetap konsisten tanpa mau merubah 1 huruf sedikitpun didalamnya. Pancasila sebagai ideologi bangsa dalam mengatasi berbagai masalah pada saat ini melakukan berbagai usaha yang dituju. Seperti: pengembangan politik kenegaraan untuk menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa, mampu mengembangkan muatan pancasila dalam sistem pendidikan nasional serta pembentukan badan khusu perumusan dan pemberdayaan pancasila. 
Dari ketiga hal tersebut dapat dicapai dengan adanya kerjasama antara pemerintah dengan lembaga yang terkait. Untuk mewujudkan pancasila dengan kelima sila bukan hanya dengan sebuah teks yang terpampang tetapi melalui pengkhayatan serta penerapan makna dalam setiap sila pancasila dalam kehidupan. Dengan berjuta generasi muda yang semakin berkembang untuk digerakkan secara benar sebagai generasi pancasila bukan hanya sebagai pengakuan semata. Banyaknya generasi muda penerus masa depan yang benar-benar berjiwa nasionalisme tinggi, tidak menoleh kebelakang untuk menyerah dan berusaha untuk meminimalisir banyaknya organisasi yang bermunculan
Indonesia dengan falsafah dan ideologi bangsa yaitu pancasila akan sangat mudah membentuk sebuah persatuan bangsa dan mewujudkan cita-cita bangsa sehingga dalam setiap permasalahan yang dihadapi bukan hanya diselesaikan semata tetapi diselesaikan secara tuntas. Penulis berharap pancasila bukan sekedar sebuah gambar dan tulisan semata tapi pancasila adalah jiwa manusia.
#muslimsejati
Sumber : https://www.kompasiana.com/hidayahiir/5954a218727e616e17df8858/pancasila-ideologiku-dan-relevansinya-terhadap-zaman-sekarang
Continue Reading...

Senin, 05 November 2018

Islam aswaja berkembang, paham radikalisme hilang

Tidak ada komentar:

Islam Aswaja Berkembang, Paham Radikal Hilang

Islam Aswaja Berkembang,  Paham Radikal Hilang
Syaifullah, NU Online | Ahad, 04 November 2018 22:15
Sambas, NU Online
Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat masa khidmat 2018-2019 resmi dikukuhkan. Kegiatan berlangsung di Balairung Bupati Sambas, Sabtu (3/11). 

Setidaknya ada 34 pengurus yang dilantik oleh Ketua Bidang Keagamaan Pengurus Besar (PB) PMII Rahmatul Fitrah dan Sekjen, Sabolah Alkalamby.

Ketua Umum PC PMII Sambas, Heriansyah bertekad mencegah gerakan radikal dengan mengoptimalkan kaderisasi. “Walaupun PMII masih tergolong muda, namun kaderisasi di Sambas sangat massif,” ungkapnya. 

Di hadapan sejumlah tokoh yang hadir, dirinya menjamin PMII semakin berkembang. “Seiring dengan kian bergemanya Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang memberikan makna berkurangnya paham radikal,” jelasnya.

Pada saat yang sama, Heriansyah mengapresiasi pengembangan kepengurusan PMII hingga ke luar negeri yakni dengan melakukan pendirian Pengurus Cabang Istimewa atau PCI PMII. 

"Kita sangat mengapresiasi pembentukan PCI PMII Maroko oleh PB PMII, serta kami siap seandainya diajak bekerja sama membentuk PCI PMII Malaysia mengingat jarak tempuh ke negara tetangga sangat dekat," katanya. 

Ketua Pengurus Koordinator Cabang PMII Kalbar, Mua'amar Kadafi berpesan agar PC PMII fokus pada kaderisasi sesuai bidangnya. "Saya berharap PC PMII yang baru dilantik ini fokus pada bidang kerjanya masing-masing.  Fokus kaderisasi juga adalah utama yang harus dilakukan," ucapnya. 

Sekretaris Jenderal PB PMII Sabolah Al Kalamby menekankan pentingnya meredam organisasi radikal di dalam kampus, khususnya mereka yang tidak setuju dengan Pancasila.

"PMII dengan jumlah cabang terbanyak dari OKP lain memiliki peran strategis  dalam menjaga keutuhan bangsa, di antara yang dilakukan adalah mencegah radikalisme,” tegasnya. 

Menurutnya, misi PMII yang tak lain punya kultur sama dengan NU harus turun menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah ke berbagai perguruan tinggi. “Karena tidak mungkin NU selaku orang tua yang turun ke kampus,” ucapnya. 

Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Sambas, Serli, mengingatkan PMII menentukan arah pergerakan, mengingat umur kepengurusan yang masih tergolong balita.  “Tapi dalam bergerak, jangan lupakan tri-khidmat PMII," pesannya.

Pelantikan dihadiri Wakil Bupati Sambas Hj Hairiah,  ada Ketua Muslimat NU Sambas, Ketua Mabincab PMII Sambas, pembina IKA PMII,  Sekjend PB PMII Sabolah Al Kalamby, Kabid Keagamaan PB PMII Rahmatul Fitrah.

Dari kepengurusan PKC PMII Kalbar hadir Mu'ammar Kadafi, bendahara umum Uray Ferry Syahbana, Kopri yakni Sri Yulandari serta Kabid Hukum Ali Akbar ARL. 

Pada acara ini juga hadir perwakilan dari BEM IAIS, Poltesa serta HMI, KAMMI dan PMKRI. (Ibnu Nawawi)
#muslimsejati
Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/98466/antisipasi-gerakan-radikal-ansor-dan-polsek-wuluhan-gelar-pertemuan
Continue Reading...

Minggu, 04 November 2018

Antisipasi gerakan radikal

Tidak ada komentar:

Antisipasi Gerakan Radikal, Ansor dan Polsek Wuluhan Gelar Pertemuan

Antisipasi Gerakan Radikal, Ansor dan Polsek Wuluhan Gelar Pertemuan
Aryudi, NU Online | Sabtu, 03 November 2018 20:00
Jember, NU Online 
Pembelokan opini terkait dengan kasus pembakaran simbol HTI semakin masif. Ini terbukti dengan munculnya gelombang unjuk rasa yang terjadi di Jakarta dan sejumlah daerah yang rata-rata ingin “membersihkan”  nama HTI dalam kasus pembakaran tersebut. 
Dalam rangka mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terkait dengan kasus tersebut, PAC Ansor Kecamatan Wuluhan, Jember, Jawa Timur menggelar pertemuan dengan jajaran Polsek Wuluhan, di kantor Polsek setempat, Jumat (2/11).
Menurut PAC Ansor Kecamatan Wuluhan, Masdian Zainul Ilmi, pertemuan tersebut adalah koordinasi untuk memetakan dan menangkal pergerakan HTI atau orang-orang yang terpapar pengaruh HTI di wilayah Kecamatan Wuluhan.
“Gerakan radikal sekarang seolah menemukan angin baru setelah terjadinya kasus pembakaran di Garut itu.  Kita harus antisipasi. Kita tidak ingin Jember ikut-ikutan, menjadi pemanas suasana,” jelasnya kepada NU Online usai pertemuan.
Sementara itu, Kapolsek Wuluhan, Zaenuri mengajak masyarakat untuk menjaga agar suasana Jember  tetap  kondusif, dan mewaspadai gerakan pihak-pihak yang berusaha membelokkan kesan dalam pembakaran di Garut tersebut. Selain itu, ia juga meminta Ansor untuk selalu berkoordinasi dan bergandengan tangan dengan polisi untuk mewaspadai munculnya gerakan-gerakan radikal yang bertopeng membela agama.
“Kami butuh Ansor dan Banser untuk koordinasi. Mari kasus-kasus yang berpotensi memecah belah umat, kita atasi bersama,” ujanya (Red: Aryudi AR). 

#muslimsejati
Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/98466/antisipasi-gerakan-radikal-ansor-dan-polsek-wuluhan-gelar-pertemuan
Continue Reading...

Sabtu, 03 November 2018

Inilah upaya agar indonesia tak hancur seperti suriah

Tidak ada komentar:

Inilah Upaya agar Indonesia Tak Hancur seperti Suriah

Inilah Upaya agar Indonesia Tak Hancur seperti Suriah
Ilustrasi (via Yeni Safak)
Fathoni, NU Online | Jumat, 02 November 2018 11:25
Jakarta, NU Online
Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) M. Najih Arromadloni menyatakan, hal yang paling fundamental agar Indonesia tidak jatuh ke dalam kondisi (hancur, luluh lantak, krisis multidimensi) seperti Suriah adalah dengan tidak mempolitisasi agama.

Ia menyatakan demikian saat melihat adanya beberapa kelompok yang gemar menggunakan mimbar masjid untuk hujatan politik. Menurutnya segala usaha ‘melacurkan’ agama untuk kepentingan politik harus ditolak.

Dia tidak menampik, bahasa dan simbol agama memang efektif untuk mengelabui masyarakat, seperti akhir-akhir ini ramai klaim ‘bendera tauhid’ atau ‘bendera Rasul’. Padahal menurut Najih yang juga dosen ilmu hadis ini, tidak ada teks Al-Qur’an maupun hadits yang mendukung klaim tersebut.

“Dengan kata lain klaim tersebut (bendera tauhid, bendera Rasul) adalah propaganda palsu. Karena tauhid adalah untuk diinternalisasi dalam hati dan diejawantahkan dalam perilaku akhlak yang luhur, bukan untuk mainan bendera,” ujar Najih kepada NU Online, Jumat (2/11).

Hal kedua menurut penulis buku Bid’ah Ideologi ISISini, adalah dengan senantiasa menjaga kedamaian dan ketertiban umum, termasuk tidak membuat kegaduhan dengan langganan melakukan aksi massa yang bisa menimbulkan gejolak di masyarakat.

Pengalaman di Suriah, tuturnnya, membuktikan bahwa kondisi instabilitas akan mengundang pihak luar untuk masuk menginfiltrasi, menyusup dan menunggangi.

“Ketika ‘api’ kekacauan sudah membesar, maka akan sulit dipadamkan, sebagaimana Suriah yang delapan tahun hidup dalam kepahitan, tak kuasa lagi mengembalikan kondisi semula,” jelas alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus ini.

Pesan lain yang ia sampaikan ialah agar berpegang teguh pada ulama-ulama yang perilakunya adalah cerminan akhlak Nabi. Ia mencontohkan seperti KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Mustofa Bisri, Buya Syafi’i Maarif, Habib Quraish Shihab, dan seterusnya.

“Mereka adalah pelita-pelita umat yang mampu menuntun perjalanan bangsa ini ke arah yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur,” ucap Najih.

Mengenai fenomena munculnye pemeran agamawan, yang mendadak ustadz, ia menyatakan perlu diuji dulu, apakah perilakunya sesuai dengan tuntunan Nabi atau tidak. Ustadz tukang caci dan mengaku paling benar, tentu bukan panutan. “Cari tahu, dimana dia belajar? Kepada siapa? Belajar apa?” jelasnya.

Terakhir, ia menyampaikan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah ‘sajadah’ kita, yang merupakan warisan para ulama. Karena itu, sudah penuh nilai-nilai keislaman.

“Merupakan kewajiban kita untuk menjaga, melestarikan, dan mewujudkan kemakmurannya. Tanpa negara tidak mungkin kita beragama. Karena itu, menjaga negara adalah bagian pokok dari menjaga agama,” tandas Najih. 

Tidak ingin Indonesia yang damai menjelma menjadi negara terpuruk seperti Suriah, Alsyami menggelar seminar kebangsaan bertajuk Jangan Suriahkan Indonesia..! pada Kamis (1/11) malam di Jakarta Selatan.

Kegiatan ini menghadirkan Syekh Adnan al-Afyouni (Mufti Damaskus, Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah), Djoko Harijanto (Dubes RI untuk Suriah), Ziyad Zahruddin (Dubes Suriah untuk Indonesia), Ahmad Fathir Hambali (Ketua Alsyami), Ahsin Mahrus (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Damaskus), dan  Ainur Rofiq (mantan petinggi HTI).

Seminar tersebut merupakan bagian dari kampanye dakwah Alsyami menolak segala upaya yang bisa menjadikan Indonesia luluh lantak seperti Suriah. Seminar ini disambut antusias oleh masyarakat Indonesia, baik yang datang langsung ke lokasi seminar, maupun menyimak secara live streaming.Sampai dengan dini hari tadi, tagar #JanganSuriahkanIndonesia menjadi top trending topic di Twitter. (Fathoni)
#muslimsejati
Sumber http://www.nu.or.id/post/read/98410/inilah-upaya-agar-indonesia-tak-hancur-seperti-suriah
Continue Reading...

Jumat, 02 November 2018

Indonesia

Tidak ada komentar:
Nashih Nashrullah/Republika
Seminar Internasional
Seminar Internasional
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Mufti Agung Damaskus Suriah Syekh Adnan al-Afyouni menyampaikan nasehat menyikapi dinamika yang berkembang saat ini di negara-negara Islam, tak terkecuali Indonesia. Nasehat ini penting agar krisis Suriah tak lagi dialami negara mayoritas Muslim lainnya. 
“Letakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan,” kata dia, dalam Seminar Internasional bertajuk “Jangan Suriahkan Indonesia”, di Jakarta, Kamis (1/11) malam. 
Dia mengatakan, yang terjadi di Suriah memang tak terlepas dari berbagai kepentingan lokal dan internasional. Kepentingan-kepentingan inilah yang memakai isu agama sebagai tameng meloloskan ambisi-ambisi mereka. 
Menurut sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Rekonsilisiasi Nasional Suriah itu, selama ini Suriah adalah negara yang aman dan tenteram. Masyarakat hidup berdampingan tanpa melihat latar belakang agama. “Ekonomi dan pendidikan kita terjamin, para pelajar Indonesia di Suriah menjadi saksi atas hal itu,” tutur dia 
Akan tetapi, kata dia, ambisi politik, perang kepentingan, dan adu domba luar telah berhasil memporak-porandakkan Suriah. Kepentingan dunia internasional begitu kuat di Suriah. Lihaltlah bagaimana Qatar berkeinginan membuat jalur gas di Suriah. Israel yang tak ingin Suriah kuat dan stabil.
Namun, kata dia, ironisnya, agenda-agenda itu tidak dibaca dengan baik oleh sebagian masyarakat Suriah di awal krisis. Kini, tak ada satupun keluarga Suriah yang tak merasakan betapa getirnya dan harga mahal yang mereka harus bayar atas krisis ini.  
“Kita membayar mahal lebih dari apa yang kalian kira,” kata dia. 
Syekh Adnan mengingatkan, hendaknya segenap eleman bangsa saling mengalah. Dia menenekankan sekali api fitnah berkobar, akan merambat dengan cepat ke tempat lain dan kemudian sangat susah memadamkannya.
Saling mengalahlah, kata Syekh Adnan, untuk bangsa dan negara. Ingat bagaimana Rasulullah SAW yang memilih jalan diplomasi melalui Perjanjian Hudaibiyah. Padahal dari segi militer, umat Islam sangat memungkinkan menang saat dihadang kafir Quraisy ketika hendak ke Makkah. 
Syekh Adnan bersyukur, Suriah kini perlahan mulai berbenah dan kondisi jauh lebih baik. Pihaknya membuka lebar pintu rekonsiliasi bagi mereka yang ingin kehidupan bangsa dan negara lebih baik. 
“Tiap warga negara ingin rekonsilisiasi. Kita tanyakan ke oposisi, apakah kekacauan ini yang kalian inginkan? Apakah ini yang diajarkan Rasulullah dan agama? Mereka menjawab tida. Baik mari kita bersama menuju rekonsiliasi. Hari ini kami bersyukur kita berbondong-bondong menuju rekonsiliasi,” tutur dia.
Sebagai informasi, hadir dalam seminar yang diinisiasi Ikatan Alumni Syam (Alsyami) ini, Duta Besar untuk Indonesia Ziyad Zahruddin, Duta Besar Indonesia untuk Suriah Djoko Hariyanto, dan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Suriah Ahsin Mahrus. 
Continue Reading...